Skip to content

Beras kencur

April 1, 2010
Hampir di setiap pelosok perkotaan maupun pedesaan, penjaja jamu keliling dapat dijumpai. Mereka dikenal dengan jamu gendong. Salah satu minuman yang tidak pernah ketinggalan dalam gendongan mbak jamu itu adalah minuman berkhasiat dan menyegarkan ”Beras Kencur”. Minuman ini nampaknya begitu merakyat. Meskipun sudah banyak dijajakan secara keliling, beras kencur juga diproduksi secara besar-besaran melalui industri jamu yang telah banyak dikenal masyarakat luas. Dengan demikian kebutuhan akan kencur selalu meningkat.

Selama ini daerah yang dikenal sebagai sentra produksi kencur adalah Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah, dengan produktivitas rata-rata sebesar 6,05 ton/ha. Tingkat produktivitas tersebut masih dianggap rendah. Hal ini dikarenakan petani belum menerapkan teknik bubidaya anjuran dengan benar dan masih menggunakan bibit asalan.

Kencur yang ditanam petani, secara botanis dikelompokkan ke dalam dua tipe, yaitu kencur berdaun lebar dan kencur berdaun sempit. Kencur berdaun lebar memiliki rimpang besar, sebaliknya, kencur berdaun sempit memiliki rimpang kecil dan berwarna lebih gelap. Petani disekitar Kabupaten Subang dan Sumedang banyak membudidayakan kencur berdaun sempit dan berimpang kecil, karena dikenal memiliki kadar minyak atsiri tinggi, disamping memiliki kadar pati dan kadar sari lebih baik, dibandingkan kencur berdaun lebar.

Produktivitas tersebut masih dapat ditingkatkan dengan penggunaan varietas unggul kencur dan menerapkan sistem budidaya yang benar. Hasil seleksi terhadap populasi kencur di sentra produksi yang dilakukan para peneliti Badan Litbang Pertanian dan ditambah lagi dengan beberapa kali pengujian di beberapa daerah, dihasilkan tiga varietas unggul kencur yang memiliki prospek untuk dikembangkan dan dibudidayakan yaitu Galesia-1, Galesia-2 dan Galesia-3.
Produktivitas Varietas Galesia-1, Galesia-2 dan Galesia-3 masing-masing mencapai 9,52 ton/ha, 10,7 ton/ha, dan 11,1 ton/ha. Ketiga varietas ini rata-rata memiliki kadar minyak atsiri, kadar pati dan kadar sari melebihi dari yang ditetapkan oleh Materia Medika Indonesia (MMI).

Umumnya varietas-varietas ini sangat responsif terhadap pemupukan sehingga produktivitas rimpangnya masih dapat ditingkatkan lagi.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: